Partnerbhayangkara-Di tengah kesibukan hidup yang semakin menekan jiwa manusia, shalat sering kali berubah menjadi rutinitas yang tergesa gesa. Padahal di dalam setiap rukuk dan sujud terdapat rahasia penghapusan dosa dan pengangkat derajat. Ketika seorang hamba memanjangkan rukuk dan sujudnya, ia sebenarnya sedang menumpahkan kerendahan hati dan membuka pintu ampunan Allah yang luas.
Bismillah. Shalat bukan sekadar gerakan tubuh yang diulang lima kali sehari. Ia adalah perjalanan ruh menuju Allah. Setiap takbir adalah pengakuan bahwa Allah lebih besar dari segala urusan dunia. Setiap rukuk adalah simbol kerendahan diri. Dan setiap sujud adalah puncak kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya. Namun banyak manusia yang kehilangan rasa dalam shalatnya. Mereka berdiri, rukuk, lalu sujud dengan cepat, seolah ingin segera menyelesaikan kewajiban, bukan menikmati perjumpaan dengan Allah.
Padahal para sahabat Nabi sangat memahami bahwa di dalam rukuk dan sujud terdapat rahasia besar. Diriwayatkan bahwa suatu hari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma melihat seorang pemuda yang sedang shalat dengan waktu yang panjang. Ia memanjangkan berdiri, rukuk, dan sujudnya. Lalu Ibnu Umar bertanya, “Siapa yang mengenal orang itu?” Seseorang menjawab, “Saya.” Maka beliau berkata, “Seandainya aku mengenalnya, niscaya aku akan menyuruhnya memanjangkan rukuk dan sujudnya.” Perkataan ini bukan tanpa dasar. Ibnu Umar pernah mendengar sabda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan rukuk dan sujud yang khusyuk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَوُضِعَتْ عَلَى رَأْسِهِ وَعَاتِقَيْهِ، فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba ketika berdiri untuk shalat, didatangkanlah dosa dosanya lalu diletakkan di atas kepala dan pundaknya. Maka setiap kali ia rukuk dan sujud, dosa dosa itu berguguran darinya.” (HR. dalam Silsilah Shahihah no. 1398)
Bayangkanlah gambaran yang disampaikan Nabi tersebut. Ketika seorang hamba berdiri untuk shalat, seluruh dosa seakan diletakkan di atas pundaknya. Setiap kesalahan yang pernah dilakukan, setiap kelalaian yang pernah terjadi, semuanya seperti beban yang menempel pada dirinya. Lalu ketika ia rukuk dengan penuh kerendahan, sebagian dosa itu jatuh. Ketika ia sujud dengan penuh kehinaan di hadapan Allah, dosa dosa itu kembali berguguran.
Sujud bahkan disebut sebagai posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya: “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)
Karena itu para ulama menjelaskan bahwa memperpanjang sujud adalah salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dan memohon ampunan. Dalam sujud seorang manusia benar benar merendahkan dirinya. Wajahnya yang biasanya dijaga kehormatannya kini menempel di tanah. Dahi yang sering dibanggakan kini bersentuhan dengan bumi. Semua itu menjadi tanda bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta.
Al Quran juga menggambarkan kemuliaan orang yang banyak sujud kepada Allah. Allah berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
Artinya: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan Nya.” (QS Al Fath: 29)
Ayat ini menggambarkan karakter orang beriman. Mereka dikenal sebagai orang yang sering rukuk dan sujud. Bukan sekadar gerakan, tetapi rukuk dan sujud yang lahir dari hati yang penuh harap kepada Allah. Mereka tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi benar benar menikmati ibadah sebagai jalan menuju keridaan Allah.
Karena itu para ulama salaf sangat memperhatikan kualitas rukuk dan sujud mereka. Mereka tidak tergesa gesa. Bahkan sebagian mereka menangis ketika sujud karena merasakan kedekatan dengan Allah. Mereka sadar bahwa setiap detik dalam sujud adalah kesempatan untuk memohon ampunan, memohon rahmat, dan memperbaiki diri.
Maka marilah kita belajar memperbaiki shalat kita. Jangan jadikan shalat sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Jadikan ia sebagai pertemuan yang dinanti dengan Allah. Panjangkan rukuk dengan tasbih yang penuh penghayatan. Panjangkan sujud dengan doa yang tulus dari hati. Karena boleh jadi di antara rukuk dan sujud itulah dosa dosa kita jatuh satu per satu tanpa kita sadari.
Jika seorang hamba memahami rahasia ini, ia tidak akan tergesa gesa dalam shalatnya. Ia justru akan menikmati setiap rukuk dan sujud sebagai momen pembersihan diri. Sebab setiap sujud adalah langkah menuju ampunan Allah. Dan setiap rukuk adalah bukti kerendahan hati seorang hamba di hadapan Rabb semesta alam.
(Dwi Taufan Hidayat)


