Cerpen: Ruang Tunggu yang Memantulkan Luka

Partnerbhayangkara-


Di sebuah ruang tunggu rumah sakit yang berbau antiseptik tajam, aku duduk dengan tiket nomor antrian yang sudah kusut di genggaman. Di luar, suara ambulans sesekali meraung memecah sore yang mendung, sementara di dalam, jam dinding berdetak terlalu jelas di telinga. Aku datang bukan karena sakit fisik, melainkan karena sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Hari itu, aku baru saja bertemu seseorang yang paling ingin aku hindari sepanjang hidupku.


Namanya Arman, kakak kandungku sendiri, yang selama lima tahun terakhir tidak pernah lagi kusebut dalam doa maupun percakapan. Pertemuan kami siang tadi terjadi tanpa rencana, di ruang rawat ayah yang kini terbaring lemah. Kata katanya masih terngiang di kepalaku, dingin dan terasa seperti luka lama yang kembali dibuka paksa. Aku keluar dari ruangan itu dengan dada sesak, membawa kembali semua kemarahan yang kupikir sudah lama terkubur.


Aku duduk di kursi plastik yang dingin, menatap lantai yang memantulkan cahaya putih pucat. Di sekelilingku, orang orang tampak sibuk dengan kesedihan mereka masing masing, seolah dunia ini adalah kumpulan luka yang saling berpapasan tanpa benar benar bertemu. Aku menggenggam tiket itu lebih erat, mencoba menahan sesuatu yang terasa ingin pecah dari dalam dada. Namun yang muncul justru wajah Arman, dengan tatapan yang sama seperti bertahun tahun lalu.


“Apa kamu masih membencinya?” sebuah suara tiba tiba terdengar di sampingku. Aku menoleh dan melihat seorang pria duduk dengan tenang, mengenakan pakaian sederhana yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Wajahnya biasa saja, tetapi tatapannya terasa aneh, seperti terlalu mengenal sesuatu tentang diriku. Aku tidak langsung menjawab, tetapi pertanyaan itu seperti menarik sesuatu keluar dari dalam diriku.


“Aku tidak membencinya tanpa alasan,” kataku akhirnya, dengan nada yang lebih keras dari yang kuinginkan. Pria itu mengangguk pelan, seolah tidak terkejut dengan jawabanku. Ia tidak menyela, hanya menunggu, dan keheningan itu justru membuatku terus berbicara. Aku mulai menceritakan semuanya, tentang pengkhianatan, tentang keputusan yang menghancurkan keluarga, dan tentang luka yang tidak pernah benar benar sembuh.


Pria itu mendengarkan tanpa memotong sedikit pun, sementara suara detak jam terasa semakin keras. Ketika aku selesai, ia bertanya dengan tenang, “Apa yang paling kamu benci dari dia?” Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyebutkan satu per satu sifat yang menurutku paling menyakitkan. Egois, keras kepala, merasa paling benar, dan tidak pernah mau mengakui kesalahan.


Ia menatapku lebih dalam, lalu bertanya lagi, “Kamu yakin tidak pernah seperti itu?” Pertanyaan itu terasa seperti sesuatu yang tidak pantas, dan aku hampir saja langsung membantah. Namun entah kenapa, kata kata itu tertahan di tenggorokan, seolah ada bagian dari diriku yang tidak berani berbohong. Ingatan ingatan kecil mulai muncul, memperlihatkan sisi diriku yang selama ini selalu aku abaikan.


Aku teringat bagaimana aku juga pernah memaksakan kehendak, bagaimana aku menolak mendengar penjelasan Arman waktu itu. Aku mengingat nada suaraku yang tinggi, kata kata yang melukai, dan kepergianku tanpa pernah benar benar mencoba memahami. Semua potongan itu datang tanpa diundang, menyusun gambaran yang tidak pernah ingin aku lihat. Dadaku terasa semakin sesak, bukan karena marah, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam.


“Kadang yang kita benci bukan orangnya, tapi bagian dari diri kita yang kita lihat pada mereka,” katanya pelan. Aku tidak langsung menjawab, tetapi kalimat itu seperti menancap di dalam pikiranku. Untuk pertama kalinya, kebencianku terasa goyah, seperti kehilangan pijakan yang selama ini membuatnya tetap berdiri. Aku mulai melihat kemungkinan bahwa selama ini aku hanya berlari dari diriku sendiri.


Suasana ruang tunggu terasa semakin sempit, meskipun tidak ada yang benar benar berubah. Seorang perawat lewat dengan langkah cepat, membawa berkas yang berdesir pelan, dan suara mesin dari kejauhan berdengung tanpa henti. Aku menatap tanganku sendiri yang gemetar, menyadari betapa lama aku memegang luka ini tanpa pernah mencoba melepaskannya. Ada rasa takut yang muncul, takut jika ternyata aku juga bagian dari masalah itu.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku pelan, hampir seperti berbisik. Pria itu tersenyum tipis, bukan senyum yang menggurui, tetapi lebih seperti pengakuan yang tenang. Ia berkata bahwa menerima tidak berarti membenarkan, dan memaafkan bukan berarti melupakan. Itu hanya berarti berhenti membiarkan luka mengendalikan hidup kita.


Aku mengangguk perlahan, meskipun di dalam hati masih ada perlawanan yang belum sepenuhnya reda. Namun untuk pertama kalinya, ada celah kecil yang terbuka, memberi ruang bagi sesuatu yang berbeda dari kebencian. Aku menarik napas dalam dalam, mencoba merasakan keheningan yang kini terasa tidak lagi menakutkan. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang selama ini aku hindari.


Namaku dipanggil dari pengeras suara, membuatku tersentak dari lamunanku. Aku berdiri dengan sedikit ragu, lalu menoleh ke arah pria yang sejak tadi duduk di sampingku. Aku ingin mengucapkan terima kasih, atau setidaknya mengangguk sebagai tanda pengakuan. Namun kursi itu kosong, seolah tidak pernah ada siapa pun di sana sejak awal.


Aku mengernyit, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, tetapi tidak menemukan jawaban yang masuk akal. Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju meja resepsionis yang berada di depan cermin besar. Pantulan diriku terlihat jelas di sana, berdiri sendirian dengan wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya. Aku menatapnya lebih lama, seolah sedang melihat seseorang yang baru saja kukenal.


Di balik pantulan itu, aku melihat bukan hanya diriku yang sekarang, tetapi juga bayangan bayangan masa lalu yang selama ini aku tolak. Kata kata yang tadi kudengar kembali terngiang, tetapi kini terasa seperti datang dari dalam diriku sendiri. Tidak ada suara lain, tidak ada orang lain, hanya aku dan semua yang selama ini aku hindari. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin berpaling.


Aku mendekat ke cermin itu, memperhatikan setiap detail wajahku yang memantulkan kelelahan dan penyesalan. Di sanalah aku menyadari sesuatu yang membuat napasku tertahan sejenak. Pria yang tadi duduk di sampingku, dengan semua pertanyaan dan ketenangannya, tidak pernah benar benar ada. Ia adalah suara yang selama ini aku diamkan, bagian dari diriku yang akhirnya memilih untuk berbicara.


Dengan suara pelan yang hampir tak terdengar, aku berkata pada pantulan itu, “Aku memaafkanmu.” Kalimat itu terasa asing sekaligus melegakan, seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci. Tidak ada yang berubah di ruangan itu, tetapi sesuatu di dalam diriku bergeser perlahan. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa perlu membenci.


Di luar, suara ambulans kembali terdengar, tetapi kali ini tidak lagi terasa mengganggu. Aku menarik napas panjang, lalu melangkah menuju ruang rawat ayah, membawa sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku miliki. Bukan jawaban yang sempurna, tetapi keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri. Dan mungkin, untuk akhirnya memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.


(Red)

أحدث أقدم
Home ADS 2