Partnerbhahangkara-Di kota yang berkilau oleh kaca dan cahaya, kebiasaan kecil sering menjelma cermin batin. Setiap sudut apik memanggil kamera, setiap latar rapi menuntut diabadikan. Bukan soal pamer, melainkan soal diakui pernah hadir. Dari kebiasaan itulah kisah ini dibingkai, bermula dari permintaan foto sederhana yang perlahan menyeret makna pulang, harga diri, dan identitas orang kampung di zaman media sosial.
Aku masih mengingat bingkainya dengan jelas. Siang itu matahari berdiri tepat di atas pelataran sebuah gedung baru. Kacanya tinggi, bersih, memantulkan langit seolah kota ini selalu baik baik saja. Aku berdiri di depan pintu masuk dan meminta satpam memotretku. Ia menatap sejenak, lalu mengangguk. Tanganku kaku saat menerima kembali ponsel itu. Di layar, aku tampak pantas berada di sana.
Aku orang kampung. Itu bukan pengakuan penuh bangga, juga bukan keluhan. Hanya cara tercepat menjelaskan mengapa setiap melihat tempat apik, dadaku seperti didorong dari dalam. Tanganku refleks meraih ponsel. Aku ingin bukti. Aku ingin jejak. Setelah foto tersimpan, aku unggah, menulis keterangan singkat, menandai lokasi. Rasanya seperti menitipkan diriku di ruang publik agar tak lenyap begitu saja.
Kebiasaan itu berulang. Di stasiun yang lantainya mengilap, di kafe dengan lampu kekuningan, di trotoar yang baru dicat ulang. Aku selalu meminta tolong orang lain memotret. Kadang pada petugas, kadang pada orang asing yang kebetulan lewat. Mereka memotret dengan sikap biasa saja. Aku yang selalu merasa istimewa. Setelahnya, aku menunggu notifikasi seperti menunggu kabar dari kampung.
Di layar ponsel, hidupku tampak bergerak maju. Kota demi kota. Sudut demi sudut. Komentar berdatangan. Ada yang bilang aku keren. Ada yang menyebut aku inspiratif. Aku membacanya sambil tersenyum kecil, lalu menutup layar. Tak satu pun tahu aku pulang ke kamar sempit, menanak nasi dengan satu lauk, menghitung sisa uang untuk esok hari. Bingkai foto sudah cukup menutupi semuanya.
Suatu sore aku kembali ke gedung berkilau itu. Ada dorongan untuk mengulang foto yang sama. Mungkin agar terlihat berkembang. Mungkin agar diriku sendiri percaya. Satpam yang sama masih berjaga. Tatapannya sedikit berbeda, lebih lama dari sebelumnya. Aku meminta difoto lagi. Ia mengangguk, tetapi tangannya tampak ragu saat menekan tombol. Aku tersenyum, senyum yang kupelajari dari layar.
Di kamar, dua foto itu kubuka berdampingan. Aku melihat diriku yang seolah naik kelas. Aku menulis keterangan yang mirip, menandai lokasi yang sama, lalu mengunggahnya. Kali ini responsnya lebih ramai. Ada pesan masuk dari nomor tak kukenal. Orang itu mengajakku bertemu, mengaku mengelola akun besar yang sering membagikan kisah orang biasa di tempat apik.
Kami bertemu di warung kopi sederhana. Ia berbicara cepat dan rapi, memperlihatkan layar ponsel berisi unggahan fotoku yang disusun dengan bingkai putih dan judul puitis. Aku terdiam. Ada rasa bangga bercampur takut. Aku bertanya soal izin. Ia tersenyum dan berkata semua sudah dicantumkan dengan baik. Aku pulang dengan langkah ringan dan kepala penuh bayangan.
Sejak itu, aku merasa punya kewajiban. Orang orang menunggu unggahanku. Mereka bertanya ke mana aku akan pergi selanjutnya. Aku pergi ke lebih banyak tempat, berdiri di lebih banyak sudut apik, menjaga pakaian dan senyumku. Aku mulai memilih waktu unggah, memilih cahaya terbaik. Aku jarang menelepon rumah. Aku tak ingin bingkai itu retak oleh suara kampung.
Malam itu ibuku menelepon. Suaranya pelan dan bergetar. Ia bertanya aku di mana. Aku menyebutkan nama tempat terakhir yang kuunggah. Ia terdiam cukup lama. Katanya ia melihat fotoku dibagikan banyak orang. Banyak yang menulis doa. Aku tertawa kecil, mengira ia salah paham. Namun dadaku tiba tiba terasa sempit.
Setelah panggilan berakhir, aku membuka ponsel. Namaku muncul di layar pencarian. Bukan unggahanku yang muncul pertama, melainkan sebuah poster digital. Fotoku di pelataran gedung berkilau itu, wajahku rapi dan tenang. Di bawahnya tertulis namaku dan kalimat belasungkawa. Ribuan orang membagikan, menuliskan doa seolah aku telah pergi.
Aku mencoba menghubungi pengelola akun itu. Tak ada jawaban. Aku keluar malam itu juga, menuju gedung berkilau. Lampu depannya masih menyala. Satpam yang sama berdiri di pos. Saat melihatku, ia pucat dan mundur setapak. Ia berbisik, hampir tak terdengar, bahwa kemarin mereka memasang karangan bunga.
Aku berdiri di depan kaca tinggi itu. Pantulanku masih utuh. Aku mengangkat ponsel dan meminta difoto. Satpam tak bergerak. Di layar, aku melihat diriku berdiri sendiri, tanpa siapa pun di belakang kamera. Untuk pertama kalinya, bingkai itu memotret diriku apa adanya.
(Dwi Taufan Hidayat)


