Pilih Harta, Penjara Atau Bahkan Kehilangan Nyawa?


Partnerbhayangkara
-MENJADIKAN penderitaan sebagai kekuatan untuk melawan penindasan, apakah masih bisa dijumpai dalam situasi kekinian? Faktanya, tak ada seseorang yang bisa memaksa siapapun untuk bisa menjadi pahlawan atau pengkhianat.


Dunia akan selalu menyajikan, drama kehidupan yang mampu membuat jiwa manusia bergetar. Dibekap kenyataan tragis memilukan dan menyayat hati yang sarat penderitaan atau  berpesta pora diliputi kesenangan, kepuasan serta kebahagiaan dari apapun caranya. 


Jalan keadaban dan jalan kebiadaban, memaksa manusia meretasnya. Tak ada opsi pilihan, selain kedua realitas yang intim mendampingi kisah para penghuni istimewa dari bumi milik Sang Maha Pencipta. Apapun pilihannya, akan selalu diikuti konsekuensinya. 


Taat pada nilai-nilai, atau mendobrak etika,  moral, dan hukum. Setia pada azas Ketuhanan dan kemanusiaan, atau tunduk pada kekhilafan dan kesalahan tak berkesudahan. Menjadi loyalis kebenaran, kejujuran, dan keadilan, atau terus menjadi hamba sekaligus pengikut taklid dan kultus kejahatan?!.


Dalam menempuh perjalanan hidupnya, tiap orang sangat dipengaruhi watak dan karakter yang membentuk kepribadiannya. Intuisi bergolak, merespon tiap peristiwa. Namun yang penting dan utama, ketika keinginan, kebutuhan dan tujuan dirancang untuk mengambil manfaat dari masa lalu juga yang tengah berlaku serta pada apa yang akan terjadi. 


Ada niat, ada siasat dan ada  sikat-menyikat kepentingan dalam beragam interaksi sosial. Supremasi seseorang atau kelompok, sangat ditentukan oleh seberapa kuat eksistensinya, juga oleh seberapa besar dominasi dan hegemoni kepentingan pribadinya pada kepentingan hajat orang banyak.


Negara dengan segala kompleksitas permasalahannya, selalu membuka ruang bagi siapa saja untuk sekedar menjadi partisipan atau lebih jauh mengambil peran mainstream. Disatu sisi, negara sangat membutuhkan peran-peran kepahlawanan dan pengorbanan untuk mengisi ruang idealisme. 


Dilain sisi, negara juga menjadi  tempat mangkalnya para penggila dunia absurd, pragmatis, dan distorsi. Secara empiris dan faktual, mayoritas tenggelam dan terombang-ambing di antara kesadaran ideal spiritual dan kesadaran rasional material. 


Banyak yang mengejar jabatan, kekayaan, dan populeritas dengan pelbagai cara, termasuk dengan kejahatan dan perilaku hipokrit. Hanya sedikit yang berani teguh, memegang nilai-nilai dan kehormatan. Menghidupi diri dengan ketulusan, mental dan jiwa kepahlawanan. 


Pengorbanan yang dimanifestasikan pada kemampuan hidup dalam kesunyian kemiskinan, keterasingan penjara, dan bahkan tuntas menegakan kebenaran dan keadilan meski harus bertukar nyawa sekalipun. Dunia pengabdian dalam wujud hingar bingar kalangan agamawan, intelektual, aktivis pergerakan dan civil society, kerap terbentur oleh tembok tinggi dan angkuhnya birokrasi. 


Realitas itu, sering memunculkan perasaan penyebutan pemerintah dan oposisi, atau status quo dan gerakan kritis. Terkadang tak jarang terbesit istilah penguasa dan kaum perlawanan. 


Dalam situasi dan kondisi tertentu, muncul kultur yang memuka disparitas kuat sebagai rezim dan rakyat. Konfigurasi dan konstelasi dari sekumpulan entitas politik itu, bukan hanya dinamis namun juga penuh tantangan, konflik dan tragedi. Siapa paling kuat, siapa paling berpengaruh dan siapa paling mematikan. 


Hanya yang mampu menjadikan penderitaan sebagai kawan paling intim, yang mampu mempertahankan harga diri dan hakikat perjuangan. Begitupun sebaliknya, yang menjadikan uang sebagai tujuan yang merendahkan dirinya demi kepentingan sesaat dan fana. 


Kepahlawanan dan pengkhianatan seperti berada dalam lintasan  arena balap lari marathon. Kemenangan dan kekalahan bukan hanya soal pada proses dan hasilnya. Tapi lebih penting dan utama dari itu, bagaimana kontestan menampilkan performa kemampuan, kekuatan, dan stamina sebagai penilaian dari proses berlatih dan bertanding. 


Apapun hasilnya, terlepas dari menggenggam trophi juara ataupun tidak, ia telah menunjukan dedikasi dan loyalitas tinggi dari kewajiban perjuangannya. Memilih menjunjung tinggi spirit dan mental petarung, laksana prajurit yang lebih baik pulang tanpa nama daripada kalah dalam peperangan.


Bukan tergoda dan  terjebak, pada tawaran menggiurkan. Keluar dari trek pertandingan yang mengabaikan sportifitas, kehormatan, dan kejujuran, hanya demi uang suap dan ambisi tak beretika. 


Kemenangan yang diraih dari hasil kecurangan dan kejahatan, sesungguhnya sudah menjadi kekalahan sejati. Bukan hanya menodai dan membunuh kehormatan diri, tapi juga semua keluarga, komunitas, organisasi dan negara, bangsa yang beririsan dan melekat dengan keberadaannya. 


Lebih miris lagi, ia akan menjadi preseden buruk yang tak mudah terhapus dari sejarah peradaban manusia. Terpatri sepanjang masa, tertulis disilah lahir dan hidup seseorang sebagaimana apa yang pernah dilakukannya.


Begitupun juga dengan gemerlapnya rezim, bersama torehan bangunan kokoh berisi "state organized crime". Ketika agama dan ajaran moral lainnya, hanya sebatas simbol. Ketika kejahatan dan kebiadaban telah menyeluruh, meresap ke dalam tulang sumsum negara. Akankah mampu menundukkan romantika, dinamika, dan dialektika kebanyakan aktivis pergerakan, pegiat kebenaran dan keadilan?. 


Para pemuka agama, akademisi, dan civil society lainnya masihkah setia pada komitmen rasa Ketuhanan dan kemanusiaan untuk menjaga dan menghidupkan suasana batin rakyat, terutama yang terpinggirkan dan tertindas.


Rakyat dan semesta alam hanya bisa menunggu, sanggupkan para pejuang nilai-nilai bertahan dari rasa sakit dan penderitaan, dari intimidasi, ancaman dan teror yang bertubi-tubi? Atau apakah akan lahir kepahlawanan atau pengkhianatan?.

Mana yang berlaku, kebenaran atau kejahatan yang berlangsung abadi?.


Tentunya, semua kembali kepada pilihan masing-masing. Bagaimanakah jalan terjal dan penuh penderitaan itu dilalui. Mungkinkah kesenangan dunia yang berkilau, membuat orang berada pada kegelapan yang teramat dalam. Integritas yang lebih progresif, mewujud Istiqomah dalam berjihad hingga syahid. Kini, semua sedang diuji secara massal. Pilih harta, penjara atau bahkan kehilangan nyawa ?!.


 (YB/FC)

Lebih baru Lebih lama
Home ADS 2