Surat Lama dari Ruang Arsip Sunyi


Partnerbhayangkara
-Di sudut ruangan paling belakang kantor bupati yang baru direnovasi, Arga berdiri sendirian di antara lemari besi tinggi yang dipenuhi map kusam berdebu. Cahaya matahari sore menyelinap melalui jendela kecil, memantulkan partikel debu yang melayang pelan seperti kenangan yang enggan jatuh. Bau kertas tua dan kayu lembap memenuhi udara, membuat napas terasa berat dan waktu seolah berjalan lambat di tempat itu.


Ia sebenarnya hanya ditugaskan memindahkan arsip lama ke ruangan baru. Pekerjaan rutin yang membosankan. Namun jemarinya berhenti ketika menemukan sebuah map tipis tanpa label terselip di balik tumpukan dokumen perencanaan anggaran puluhan tahun lalu. Map itu tampak lebih tua dari yang lain, ujungnya rapuh dimakan usia.


Saat dibuka, selembar foto terlepas dan jatuh ke lantai. Arga memungutnya pelan. Di foto itu tampak seorang perempuan muda mengenakan seragam dinas lama, berdiri di depan papan tulis penuh coretan rencana pembangunan daerah. Tatapannya tajam namun teduh, seperti seseorang yang melihat sesuatu yang belum terlihat orang lain.


Arga terdiam. Wajah perempuan itu sangat mirip dengan Bupati Nirmala Prasetya, pemimpin Kabupaten Wanasari saat ini. Namun jelas sekali foto itu diambil puluhan tahun lalu. Di bagian belakang foto tertulis dengan tinta pudar: Ruang Bappeda 1994.


Rasa penasaran mulai mengusik pikirannya. Ia kembali membuka map itu. Di dalamnya terdapat salinan notulen rapat, sketsa irigasi desa, rancangan tata pasar tradisional, hingga catatan kecil di pinggir kertas tentang nasib petani yang kesulitan air di musim kemarau. Nama Nirmala muncul berulang kali sebagai penyusun konsep.


Semakin ia membaca, semakin ia merasa ada sesuatu yang janggal. Banyak program yang tertulis di dokumen tua itu sangat mirip dengan kebijakan yang sekarang dijalankan oleh Bupati Nirmala. Seolah semua ini bukan kebetulan, melainkan kelanjutan dari rencana lama yang tertunda puluhan tahun.


Arga mulai mengingat cerita ayahnya semasa hidup. Ayahnya dulu juga bekerja di Bappeda. Ia sering bercerita tentang seorang rekan perempuan yang sangat cerdas, keras kepala, dan terlalu peduli pada nasib rakyat kecil. Namun ayahnya tidak pernah menyebut namanya.

Perasaan aneh merambat pelan di dada Arga.


Ia memutuskan menyelidiki lebih jauh. Ia membuka arsip lain, mencari notulen lama, laporan keuangan, dan dokumen perencanaan yang tersimpan di lemari paling belakang. Nama Nirmala selalu ada di sana. Bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai perancang, penyusun, dan pemikir.


Sore menjelang malam ketika Arga menemukan selembar surat terselip di antara dokumen dokumen itu. Surat tanpa kop resmi, dilipat rapi, kertasnya mulai menguning. Di bagian atas tertulis: Untuk Raka.

Tangan Arga mendadak dingin.

Ia membuka surat itu perlahan.


Isinya tentang kegelisahan seorang ASN muda yang merasa rencana rencana pembangunan terlalu lambat diwujudkan. Tentang harapan bahwa suatu hari salah satu dari mereka harus berada di posisi pengambil keputusan agar semua rencana itu tidak berhenti di atas kertas.


Di bagian akhir tertulis kalimat yang membuat napas Arga tercekat.


Jika suatu hari aku berada di posisi itu, semua ini akan aku wujudkan satu per satu.


Arga menurunkan surat itu dengan tangan gemetar. Ia membaca tanda tangan di bawahnya.

Raka Prasetya.

Nama ayahnya.


Kepalanya terasa berdenyut. Semua potongan cerita yang selama ini samar tiba tiba menemukan bentuknya. Rekan perempuan cerdas yang sering disebut ayahnya. Rencana rencana pembangunan yang kini dijalankan. Foto lama di ruang Bappeda.


Keesokan harinya, Arga berdiri di depan pintu ruang kerja Bupati Nirmala dengan jantung berdegup keras. Surat itu masih ia genggam.


Nirmala menerima Arga dengan senyum tenang. Namun senyum itu memudar ketika Arga meletakkan surat tua di atas mejanya.


Nirmala memandang surat itu lama sekali sebelum akhirnya duduk perlahan.


“Di mana kamu menemukan ini” tanyanya pelan.


“Di ruang arsip belakang, Bu. Saya mengenal nama itu.”


Ruangan mendadak sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berjalan lambat.


“Raka adalah orang yang paling percaya bahwa perubahan harus direncanakan jauh sebelum orang lain memikirkannya” ucap Nirmala lirih.


Arga menatapnya tajam. “Beliau ayah saya.”


Mata Nirmala berkaca kaca. Ia bangkit dan berjalan ke jendela, menatap halaman kantor yang ramai oleh warga.


“Kami dulu menyusun banyak rencana bersama. Ia selalu berkata, kalau sistem tidak berubah, suatu hari salah satu dari kami harus masuk lebih dalam ke sistem itu.”


Arga merasakan dadanya sesak. Ia teringat ayahnya yang sering pulang larut, membawa map penuh coretan, berbicara tentang mimpi mimpi yang terdengar terlalu besar untuk ukuran meja kantor kecil di rumah mereka.


“Beliau ingin Ibu yang melakukannya” suara Arga bergetar.


Nirmala mengangguk pelan.


“Dan saya hanya menjalankan apa yang dulu kami rencanakan bersama.”


Arga terdiam lama. Ia memandangi wajah pemimpinnya itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Kekaguman bercampur kehilangan yang baru terasa nyata.


Sebelum Arga beranjak pergi, Nirmala berkata pelan tanpa menoleh.


“Raka tidak pernah tahu satu hal.”

Arga berhenti di ambang pintu.


“Saya menyimpan salinan semua rencana itu bukan karena ingin suatu hari menjadi pemimpin.”

Nirmala menoleh, tatapannya dalam.


“Saya menyimpannya karena sejak awal saya tahu, rencana itu bukan milik saya.”

Arga menunggu.


“Rencana itu milik ayahmu. Saya hanya orang yang kebetulan masih hidup ketika waktunya tiba.


(Dwi Taufan Hidayat)

Lebih baru Lebih lama
Home ADS 2