Partnerbhayangkara-Garut- Peredaran obat-obatan keras yang diduga masuk kategori psikotropika salah satunya obat jenis tramadol saat ini menjadi sorotan publik, khususnya di Kabupaten Garut.
Diduga peredaran obat haram tersebut seringkali beredar di wilayah Garut. Bahkan, jajaran Polres Garut juga beberapa kali mengamankan bandar yang diduga menjual belikan obat tersebut.
Peredaran obat-obatan jenis tramadol juga bahkan disorot oleh orang nomor satu di Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Saat pertunjukan seni tradisonal asal Tasikmalaya yang tampil dalam Kirab Minangkala Tatar Sunda di Garut menjadi sorotan setelah sejumlah anggota kelompok seni terlihat mengalami kondisi yang diduga “kesurupan jurig” di tengah penampilan.
Menanggapi kejadian ini, Dedi Mulyadi, memberikan pandanganya terkait fenomena tersebut dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Sunda.
Ia menegaskan, bahwa karakter manusia itu berbeda antara satu dengan yang lainnya dan tidak bisa diseragamkan.
“Kan manusia itu tidak semuanya seperti bupati yang gayanya santri, tidak semuanya seperti Oni, atau seperti dandim, danrem, atau kapolres. Jadi berbeda beda,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa dalam budaya Sunda, terdapat ruang bagi anak-anak muda yang memiliki energi besar dan cenderung seperti jagoan di lingkungannya untuk menyalurkan diri melalui kesenian.
Menurutnya, kelompok seni bisa menjadi wadah positif bagi mereka.
“Ada yang suka jadi jagoan, jadi preman, bikin kelompok seni akhirnya bisa kesurupan akibat sering dilarang larang. Kelompok anak ini tidak ada yang mewadahi, akhirnya minum tramadol. Jadi jangan suka melarang, kusabab budak bangor teh aya dilingkungan urang,” imbuhnya.
Dedi mengingatkan bahwa tanpa wadah yang tepat, sebagian remaja berpotensi mencari pelarian ke hal-hal negatif.
“Kalau tidak ada ruang, mereka bisa terjerumus, misalnya menggunakan obat-obatan seperti tramadol atau minuman keras,” katanya.
Dedi menegaskan, bahwa fenomena kesurupan dalam konteks kesenian masih bisa ditangani secara mudah.
“Mening keneh kasurupan ku jurig, bisa dibere cai langsung cageur. Tapi lamun dibere tramadol hese cageurna,” tegasnya.
Dedi juga mengungkapkan bahwa penggunaan obat tramadol akan meruksak keluarga, hingga generasi bangsa Indonesia.
“Bakal ruksak, nu untung batur, bangsa urang jadi ruksak. Nyiksa ka indungna, nyiksa ka bapana,” imbuhnya.
Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini dirinya belum pernah mendengar kasus kesurupan yang sampai menyebabkan tindakan fatal seperti pembunuhan.
“Saya belum pernah mendengar yang kesurupan membunuh orang,” pungkasnya.
(Red)


