Cerpen: Lebaran, Utang, dan Wajah yang Retak


Partnerbhayangkara
-Menjelang Lebaran, sebuah counter ponsel di sudut kota menjadi saksi dari transaksi yang lebih dalam dari sekadar jual beli. Orang orang datang membawa harapan, gengsi, dan kebutuhan yang saling bertabrakan. Di balik kemudahan cicilan dan kilau barang baru, tersimpan keputusan cepat yang perlahan mengikat hidup seseorang dalam beban yang tak kasat mata.


Butet berdiri di depan etalase kaca yang memantulkan wajahnya sendiri. Pantulan itu terasa asing. Ada lelah yang tak sempat ia akui, ada cemas yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri. Lampu putih di dalam counter membuat deretan ponsel tampak sempurna, seolah tak pernah mengenal kata kekurangan.


Dari luar, suara kendaraan bersahutan. Sesekali terdengar potongan takbir dari masjid yang tak terlalu jauh. Kota sedang bersiap menyambut Lebaran, dan seperti tahun tahun sebelumnya, semua orang ingin terlihat baik baik saja.


“Yang ini lagi banyak dicari, Mas.”

Suara Dimas memecah lamunan. Tangannya menunjuk satu unit ponsel terbaru, harganya nyaris menyentuh dua puluh juta. Cara Dimas berbicara ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang bagi Butet terasa sebesar keputusan hidup.


“Cicilan bisa, kan?” tanya Butet, berusaha terdengar santai.


“Bisa banget. Cepat juga prosesnya. Data lengkap, langsung jalan. Banyak kok yang ambil sekarang. Buat Lebaran.”

Dimas tersenyum. Senyum yang ramah, tapi entah kenapa terasa seperti mendorong.


Butet mengangguk pelan. Di kepalanya, wajah ibunya muncul. Pesan terakhir yang ia baca pagi tadi masih teringat jelas, menanyakan apakah tahun ini ia bisa pulang dengan keadaan lebih baik. Tidak perlu membawa apa apa, kata ibunya, tapi Butet tahu kalimat itu bukan sepenuhnya tanpa harap.


Di sisi lain, grup percakapan teman temannya sudah ramai. Mereka membahas baju baru, rencana mudik, dan tempat berkumpul. Tidak ada yang ingin terlihat tertinggal.


“Ambil yang ini aja,” kata Butet akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri.


Prosesnya berjalan cepat. Terlalu cepat. Data difoto, formulir diisi, tanda tangan dibubuhkan tanpa banyak dibaca. Dimas beberapa kali berkata, “Tenang aja, Mas, ini standar,” seolah semua keraguan memang tidak perlu ada.


Kotak ponsel itu berpindah ke tangan Butet. Ringan, rapi, dan mengilap. Namun di baliknya, ada sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.


Ia keluar dari counter dengan langkah yang sedikit tergesa. Udara sore terasa lebih hangat. Ia menyeberang jalan dan masuk ke toko kecil yang menjual ponsel bekas.


“Baru ya?” tanya penjaga toko singkat.


Butet mengangguk.


“Kalau sekarang, saya ambil lima belas.”


Butet terdiam sejenak. Selisih itu terasa seperti luka kecil yang sengaja ia abaikan.


“Iya, nggak apa apa,” jawabnya.


Uang berpindah tangan. Cepat, tanpa seremoni. Dalam waktu kurang dari satu jam, benda yang tadi ia pilih dengan ragu sudah tak lagi bersamanya. Yang tersisa hanya lembaran uang dan sebuah keputusan yang belum terasa berat.


Hari hari setelah itu terasa lebih ringan. Butet membeli baju baru. Ia mengirim uang lebih banyak dari biasanya ke ibunya. Ia bahkan sempat mentraktir teman teman. Di layar media sosial, hidupnya tampak rapi, cukup, bahkan sedikit berlebih.


“Wah, aman lo tahun ini,” kata salah satu temannya sambil tertawa.


Butet ikut tertawa. Ia tidak menjelaskan apa pun.


Namun, setelah Lebaran lewat, suasana berubah pelan pelan.


Tagihan pertama datang seperti ketukan yang tak bisa diabaikan. Angkanya lebih besar dari yang ia bayangkan. Ada bunga yang sebelumnya tidak ia hitung dengan serius.


Butet mulai mengurangi banyak hal. Makan di luar, nongkrong, bahkan sekadar membeli kopi. Ia mulai menghitung setiap pengeluaran dengan cermat, sesuatu yang dulu jarang ia lakukan.


Di malam malam tertentu, ia terbangun hanya untuk memastikan sisa saldo di rekeningnya masih cukup untuk bertahan sampai akhir bulan.


Suatu sore, ia kembali ke counter itu.


“Gimana, Tet? Aman?” tanya Dimas, masih dengan senyum yang sama.


Butet menatap etalase di depannya. Ponsel ponsel baru tetap tersusun rapi, seperti tidak pernah terlibat dalam cerita siapa pun.


“Masih banyak yang kayak gue?” tanya Butet pelan.


Dimas tertawa kecil. “Banyak. Tiap tahun juga gitu. Bahkan ada yang ambil lebih dari satu.”


Kalimat itu menggantung lebih lama dari yang seharusnya.


Butet tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi ia tidak tahu harus menaruh curiga di bagian mana.


Beberapa minggu kemudian, telepon itu datang.

“Selamat siang, apakah ini dengan Butet?”

“Iya.”

“Kami dari pihak pembiayaan. Kami ingin mengonfirmasi terkait dua kontrak cicilan aktif atas nama Anda.”

Butet terdiam. “Dua?”


“Iya. Satu sesuai pengajuan Anda. Satu lagi diajukan dengan data yang sama di lokasi yang sama.”


Dunia seolah menyempit.


Ingatan Butet kembali ke hari itu. Pada proses yang terlalu cepat. Pada kalimat kalimat yang membuatnya merasa tidak perlu berpikir terlalu jauh.


Ia datang lagi ke counter. Namun kali ini, Dimas tidak ada.


“Mas Dimas sudah tidak kerja di sini,” kata pegawai lain.


“Sejak kapan?”


“Beberapa hari lalu.”


Butet berdiri diam. Lampu putih itu masih sama. Etalase masih rapi. Semua terlihat normal.


Hanya saja, kini ia tahu, tidak semua yang terlihat normal benar benar aman.


Beberapa hari kemudian, semua menjadi jelas. Ponsel kedua itu telah dijual. Cicilannya berjalan. Atas namanya.


Butet duduk di kamar kontrakannya yang sempit. Suara kota terdengar samar dari luar. Ia menatap layar ponselnya lama, melihat rincian tagihan yang kini terasa seperti daftar panjang kesalahan.


Tidak ada yang bisa ia salahkan sepenuhnya. Tidak juga dirinya, tidak juga orang lain. Semua terjadi di antara keputusan cepat dan kepercayaan yang diberikan tanpa sisa.


Di sudut layar, notifikasi pengingat pembayaran kembali muncul.

Butet tidak langsung menutupnya.

Ia hanya duduk, memandangi angka angka itu, sementara di luar sana, orang orang masih sibuk mempersiapkan Lebaran berikutnya.


(Dwi Taufan Hidayat)

Lebih baru Lebih lama
Home ADS 2