Cahaya Mahabbah Rabiah di Ramadan


Partnerbhayangkara-
Rabiah al-Adawiyah adalah perempuan sufi yang hidupnya menjelma nyala cinta ilahi. Dalam sunyi dan lapar, dalam kehilangan dan air mata, ia menemukan jalan menuju Allah dengan mahabah yang murni. Ramadan baginya bukan sekadar bulan puasa, melainkan musim pertemuan jiwa dengan Sang Kekasih. Kisahnya adalah riwayat keteguhan, kesucian, dan cinta tanpa pamrih.


Rabiah al-Adawiyah lahir di Basrah, Irak, sekitar tahun 95 Hijriah atau abad kedelapan Masehi. Ia terlahir dari keluarga miskin yang saleh. Ayahnya dikenal sebagai lelaki yang zuhud dan menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia. Dalam riwayat disebutkan, pada malam kelahirannya, keluarga itu tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu. Namun, kemiskinan tidak membuat rumah itu gelap oleh keluhan; justru di sanalah cahaya iman mulai tumbuh dalam diri Rabiah kecil.


Sejak kecil, Rabiah telah merasakan getirnya hidup. Kedua orang tuanya wafat ketika ia masih belia. Basrah saat itu dilanda paceklik dan kekacauan. Rabiah terpisah dari saudara-saudaranya dan bahkan sempat dijual sebagai budak. Masa perbudakan itu menjadi babak pahit sekaligus awal pendewasaan rohaninya. Di rumah tuannya, ia bekerja keras pada siang hari dan bangun di malam hari untuk salat dan berdoa.


Ketekunan belajarnya pada agama tidak melalui bangku madrasah seperti lazimnya ulama besar. Ia belajar langsung dari kehidupan, dari penderitaan, dan dari perenungan yang panjang. Dalam sunyi malam, ia menengadahkan tangan dan berkata, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa keinginan hatiku adalah menaati-Mu. Jika aku bebas, seluruh waktuku akan kuhabiskan untuk beribadah kepada-Mu.” Sejak usia muda itulah, hatinya telah terpaut kuat pada Tuhan.


Suatu malam, tuannya melihat cahaya terang di atas kepala Rabiah saat ia sedang salat. Hatinya tergetar. Ia menyadari bahwa budaknya bukan perempuan biasa. Karena takut kepada Allah, ia pun membebaskan Rabiah. Sejak saat itu, Rabiah memilih hidup sederhana, menjauhi gemerlap dunia, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada ibadah.


Ramadan menjadi bulan yang paling ia nantikan. Bagi Rabiah, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan hati dari selain Allah. Ia memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan menangis dalam doa. Siang harinya ia berpuasa dengan penuh kesadaran, malamnya ia tenggelam dalam munajat. Ia tidak menjadikan Ramadan sebagai rutinitas, tetapi sebagai perjamuan cinta.


Tentang kehidupan rumah tangganya, banyak riwayat menyebutkan bahwa Rabiah tidak menikah. Ia memilih jalan kesendirian demi menjaga keutuhan cintanya kepada Allah. Beberapa tokoh saleh dan ulama besar pada zamannya melamarnya, namun ia menolak dengan halus. Ia berkata bahwa hatinya telah penuh oleh cinta kepada Allah, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk cinta duniawi.


Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa jika pun ia mempertimbangkan pernikahan, itu bukan karena kebutuhan dunia, melainkan demi menjaga kehormatan. Namun pada akhirnya, ia tetap hidup sendiri hingga akhir hayatnya. Baginya, pernikahan adalah sunnah yang mulia, tetapi panggilan jiwanya adalah menjadi hamba yang sepenuhnya tenggelam dalam mahabah ilahi.


Mahabah Rabiah adalah ajaran yang menggetarkan dunia tasawuf. Ia memperkenalkan cinta kepada Allah tanpa pamrih. Dalam doanya yang masyhur, ia berkata, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau palingkan aku dari keindahan wajah-Mu.”


Cinta seperti itu tumbuh subur di bulan Ramadan. Dalam lapar, ia merasa dekat. Dalam sepi, ia merasa ditemani. Ia tidak memperhitungkan pahala secara matematis, melainkan menikmati setiap detik kebersamaan dengan Tuhan. Ramadan adalah waktu ketika tirai antara hamba dan Rabb terasa lebih tipis, dan Rabiah memanfaatkannya untuk memperdalam kerinduan.


Kehidupannya setelah masa muda diisi dengan pengajaran dan nasihat. Banyak murid dan ulama datang menemuinya untuk belajar tentang hakikat cinta ilahi. Meski seorang perempuan, wibawanya melampaui batas zaman. Ia tidak berbicara dengan retorika tinggi, tetapi dengan kesederhanaan yang lahir dari pengalaman batin.


Ia hidup dalam rumah kecil, dengan tikar sederhana dan kendi air sebagai teman setia. Namun hatinya seluas langit. Ia tidak memiliki harta, tetapi memiliki kekayaan spiritual yang tak ternilai. Dalam Ramadan, rumah kecil itu sering menjadi saksi tangis dan dzikirnya hingga fajar menyingsing.


Rabiah wafat sekitar tahun 185 Hijriah. Kepergiannya meninggalkan jejak cinta yang abadi dalam sejarah Islam. Ia membuktikan bahwa seorang perempuan dapat mencapai derajat spiritual tertinggi melalui kesungguhan dan keikhlasan.


Kisah hidupnya adalah cermin bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah lahiriah, tetapi momentum penyucian cinta. Dari Rabiah kita belajar bahwa mahabah adalah puncak perjalanan ruhani. Ia mengajarkan bahwa mencintai Allah tanpa syarat adalah kebebasan sejati. Dan di setiap Ramadan, semangatnya seakan berbisik: puasalah bukan hanya dengan tubuhmu, tetapi dengan hatimu.


(Dwi Taufan Hidayat)

Lebih baru Lebih lama
Home ADS 2