Partnebrbhayangkara-Selawat sering kita ucapkan sebagai zikir ringan di bibir, namun jarang disadari sebagai pintu besar yang menghadirkan rahmat, ketenangan, dan penyelesaian masalah hidup. Banyak orang sibuk memanjangkan daftar doa, tetapi lupa mengagungkan kekasih Allah. Padahal, ketika selawat memenuhi lisan dan hati, Allah sendiri yang mencukupkan kebutuhan, menenangkan kegelisahan, dan memakbulkan doa yang bahkan belum terucap.
Ada satu hadis agung yang menjadi dasar pemahaman ini, diriwayatkan dari sahabat mulia Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia memperbanyak selawat untuk beliau dalam doanya. Ia bertanya, “Berapa bagian dari doaku yang sebaiknya aku jadikan selawat untukmu?” Hingga akhirnya ia berkata, “Bagaimana jika seluruh doaku aku jadikan selawat untukmu?” Rasulullah ﷺ menjawab:
اِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
“Jika begitu, niscaya kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikan kalimat Nabi ﷺ: تُكْفَى هَمَّكَ, “dicukupkan kegelisahanmu”. Kata hamm dalam bahasa Arab bermakna beban pikiran, kecemasan tentang pekerjaan, anak, rezeki, masa depan, dan segala yang meresahkan hati. Artinya, ketika seseorang sibuk berselawat, Allah sendiri yang turun tangan mengurus apa yang ia cemaskan, bahkan sebelum ia menyebutkannya dalam doa.
Ini selaras dengan janji Allah dalam Al-Qur’an:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Selawat adalah bentuk takwa hati, karena ia memuliakan Rasulullah ﷺ yang dimuliakan Allah. Ketika seseorang memuliakan yang Allah muliakan, maka ia sedang berada di jalur takwa yang mengundang pertolongan Allah dari arah yang tak terduga.
Mengapa selawat begitu dahsyat? Karena hakikat selawat adalah permintaan rahmat. Kita membaca:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad.”
Rahmat Allah bukan sekadar kasih sayang. Rahmat mencakup ampunan dosa, ketenangan jiwa, keluasan rezeki, kemudahan urusan, dan jalan keluar dari kesulitan. Maka ketika seseorang memohon turunnya rahmat kepada Nabi ﷺ, ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah yang sangat luas. Dan ketika rahmat itu turun, ia tidak datang sendirian, tetapi membawa satu paket kebaikan.
Allah sendiri memerintahkan selawat dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Bayangkan, amalan yang kita lakukan adalah amalan yang juga dilakukan oleh Allah dan para malaikat. Ini bukan zikir biasa. Ini adalah zikir langit, yang Allah perintahkan kepada penghuni bumi.
Di sinilah konsep adab yang sangat indah. Ibarat seseorang datang kepada raja, lalu ia memuji anak kesayangan sang raja di hadapannya. Sang raja pasti merasa senang, bahkan sebelum orang itu meminta apa pun, ia sudah ingin memberinya hadiah. Begitulah adab selawat. Kita memuji kekasih Allah di hadapan Allah. Maka Allah sangat mencintai orang yang memuliakan Nabi-Nya.
1 spasi
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Makna Allah berselawat kepada hamba adalah Allah melimpahkan rahmat, pujian di hadapan malaikat, serta keberkahan hidup. Maka orang yang lisannya dipenuhi selawat sebenarnya sedang menyelimuti hidupnya dengan rahmat yang berlapis lapis.
Tidak heran jika orang yang gemar berselawat tampak lebih tenang, lebih ringan langkah hidupnya, dan lebih mudah urusannya. Bukan karena ia tidak punya masalah, tetapi karena Allah yang mengurus masalahnya. Bahkan doa yang belum sempat ia ucapkan telah Allah makbulkan, karena hatinya sudah sibuk dengan selawat.
Ini mengajarkan kita satu pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada daftar panjang permintaan kita kepada Allah. Jangan hanya sibuk dengan apa yang kita inginkan, tetapi sibuklah dengan memuliakan yang Allah cintai. Fokus pada Pemberi, bukan pada daftar pemberian.
Ketika hati dipenuhi cinta kepada Nabi ﷺ melalui selawat, Allah penuhi hidup kita dengan kecukupan. Sebagaimana firman-Nya:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah sudah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)
Selawat adalah jalan halus menuju kecukupan itu. Tanpa banyak kata, tanpa banyak keluhan, tanpa banyak permintaan, tetapi penuh adab, penuh cinta, dan penuh pengagungan kepada Rasulullah ﷺ.
Maka, jika hidup terasa berat, jika pikiran dipenuhi kecemasan, jika doa terasa panjang dan melelahkan, cobalah perbanyak selawat. Biarkan lisan sibuk memuji Nabi ﷺ. Biarkan hati tenggelam dalam cinta kepada beliau. Lalu saksikan bagaimana Allah menenangkan hati, mencukupkan kebutuhan, mengampuni dosa, dan memudahkan urusan, bahkan sebelum kita meminta.
Inilah rahasia selawat. Doa yang tidak disebut pun Allah makbulkan. Karena ketika selawat menjadi kebiasaan, rahmat Allah turun tanpa diminta, dan kecukupan hidup datang tanpa disangka sangka.
(Dwi Taufan Hidayat)


