Jejak Pusaka Mataram Membentuk Kadipaten Semarang

Empat bilah keris, dua laras meriam, enam puluh pucuk senjata api, seratus dua puluh bilah pedang, dan lima perangkat gamelan. Deretan pusaka itu bukan sekadar hadiah kerajaan, melainkan lambang kepercayaan politik sekaligus penegasan lahirnya Kadipaten Semarang sebagai kekuatan penting di pesisir utara Jawa. 

PartnerBhayangkara.id, 22 Juli 2026

Empat bilah keris, dua laras meriam, enam puluh pucuk senjata api, seratus dua puluh bilah pedang, dan lima perangkat gamelan. Deretan pusaka itu bukan sekadar hadiah kerajaan, melainkan lambang kepercayaan politik sekaligus penegasan lahirnya Kadipaten Semarang sebagai kekuatan penting di pesisir utara Jawa. Namun, lebih dari tiga abad kemudian, keberadaan pusaka tersebut justru menjadi teka teki sejarah yang belum terjawab secara tuntas.

Pada awal abad ke 18, Keraton Kasultanan Mataram yang berkedudukan di Kartasura dilanda perang suksesi antara Amangkurat III dan Pangeran Puger. Konflik tersebut bukan sekadar perebutan takhta di lingkungan keluarga kerajaan, tetapi juga menentukan arah politik Jawa setelah kekuasaan Mataram mulai menghadapi berbagai tekanan internal dan eksternal. Para bupati di berbagai daerah harus menentukan sikap politiknya karena pilihan mereka akan berpengaruh terhadap masa depan wilayah yang dipimpinnya.

Di tengah situasi itu, Bupati Semarang Kyai Tumenggung Yudonegoro memilih berpihak kepada Pangeran Puger. Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Kekalahan berarti hilangnya jabatan, bahkan dapat berujung pada hukuman berat. Namun sejarah kemudian mencatat bahwa Pangeran Puger berhasil memenangkan perang saudara itu dan dinobatkan sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono I. Sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan dan jasanya, Kyai Tumenggung Yudonegoro diangkat menjadi adipati dengan gelar baru Kyai Adipati Surohadimenggolo I.

Pengangkatan tersebut memiliki makna yang jauh melampaui kenaikan pangkat. Dalam tradisi politik Jawa, seorang adipati merupakan perpanjangan tangan raja di daerah. Karena itu, pengukuhan seorang adipati selalu disertai simbol simbol yang menegaskan legitimasi kekuasaan. Di sinilah pemberian pusaka kerajaan memperoleh arti yang sangat penting.

Menurut sejumlah catatan sejarah lokal, Pakubuwono I menganugerahkan empat bilah keris, dua laras meriam, enam puluh pucuk senjata api, seratus dua puluh bilah pedang, serta lima perangkat gamelan kepada Adipati Semarang. Selain itu, ia juga menerima wilayah kekuasaan yang membentang di sepanjang jalur Semarang hingga Salatiga dengan ribuan desa di dalamnya. Hadiah tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan kerajaan kepada penguasa Semarang yang pada masa itu menjadi salah satu simpul strategis di pesisir utara Jawa.

Menariknya, daftar hadiah tersebut memperlihatkan keseimbangan antara kekuatan militer dan kekuatan budaya. Keris, pedang, meriam, dan senjata api jelas berkaitan dengan pertahanan, keamanan, dan kewibawaan pemerintahan. Sebaliknya, keberadaan lima perangkat gamelan memberikan pesan yang berbeda. Walaupun tidak terdapat sumber primer yang secara eksplisit menjelaskan alasan pemberiannya, keberadaan gamelan dapat ditafsirkan sebagai simbol bahwa seorang adipati tidak hanya bertanggung jawab menjaga keamanan wilayah, tetapi juga memelihara kehidupan budaya masyarakatnya.

Penafsiran tersebut sejalan dengan karakter pemerintahan Jawa tradisional yang memandang kekuasaan sebagai perpaduan antara kewibawaan politik, kemampuan menjaga ketertiban, dan tanggung jawab merawat harmoni sosial. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari keberhasilannya mempertahankan wilayah, melainkan juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat melalui seni, adat, dan tradisi.

Keberadaan meriam dan senjata api juga menunjukkan bahwa Mataram pada masa itu telah mengenal teknologi persenjataan yang berkembang melalui interaksi dengan bangsa Eropa. Masa pemerintahan Pakubuwono I berlangsung ketika hubungan politik dengan VOC semakin intensif. Bahkan, beberapa tahun setelah perang suksesi berakhir, posisi Semarang menjadi semakin strategis karena berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus basis kepentingan VOC di pesisir utara Jawa. Fakta ini menjelaskan mengapa wilayah Semarang memiliki arti penting, baik bagi kerajaan maupun kekuatan kolonial yang mulai memperluas pengaruhnya.

Dari sudut pandang sejarah, pusaka tersebut sesungguhnya merupakan arsip budaya dalam bentuk benda. Setiap bilah keris, setiap laras meriam, hingga setiap perangkat gamelan menyimpan kisah mengenai hubungan antara pusat kekuasaan dan daerah, perkembangan teknologi, diplomasi politik, serta kehidupan budaya masyarakat Jawa. Nilainya bukan semata karena usia atau bahannya, melainkan karena menjadi saksi lahirnya sebuah babak penting dalam sejarah Semarang.

Sayangnya, setelah lebih dari tiga abad berlalu, keberadaan pusaka pusaka itu belum dapat dipastikan secara ilmiah. Hingga kini belum ditemukan inventaris resmi yang mampu menjelaskan secara lengkap di mana seluruh benda tersebut berada. Sebagian mungkin masih tersimpan di lingkungan keraton, sebagian dapat saja telah berpindah ke museum, atau bahkan hilang akibat berbagai gejolak sejarah, tetapi semua kemungkinan itu masih memerlukan pembuktian melalui penelitian berbasis arsip dan benda cagar budaya.

Justru di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi para sejarawan, arkeolog, budayawan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Penelusuran terhadap arsip Keraton Surakarta, Arsip Nasional Republik Indonesia, koleksi museum, laporan kolonial Belanda, hingga naskah lokal dapat membuka kembali jejak pusaka yang selama ini nyaris terlupakan. Penelitian semacam itu tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga bagi penguatan identitas sejarah Kota Semarang.

Apabila pusaka pusaka tersebut masih dapat ditemukan, nilainya tidak sekadar sebagai koleksi benda antik. Ia merupakan bukti autentik perjalanan politik, budaya, dan pemerintahan Jawa pada awal abad ke 18. Sebaliknya, apabila sebagian telah hilang, proses pencarian dan pendokumentasiannya tetap memiliki arti besar karena membantu merekonstruksi sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui cerita dan catatan yang tersebar.

Kisah tentang hadiah Pakubuwono I kepada Adipati Surohadimenggolo I bukan hanya cerita mengenai keris, pedang, meriam, senjata api, atau gamelan. Kisah ini adalah pengingat bahwa sejarah dibangun oleh keberanian mengambil keputusan, kesetiaan kepada amanah, serta kemampuan memadukan kekuatan dan kebudayaan dalam membangun peradaban. Pertanyaan mengenai di mana pusaka pusaka itu berada hari ini masih menunggu jawaban. Mungkin jawabannya tersembunyi di balik rak arsip yang belum dibuka, di ruang penyimpanan museum yang belum diteliti, atau bahkan masih tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat yang menunggu untuk ditelusuri kembali.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak