PartnerBhayangkara.id, 23 Juli 2026
Setiap pagi, ada pemandangan sederhana yang sering luput dari perhatian: punggung seorang ayah yang melangkah tenang meninggalkan rumah demi menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan. Tidak ada keluhan yang diperdengarkan, tidak ada kegelisahan yang dipertontonkan. Dari langkahnya, kita belajar bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan tergesa-gesa. Ada ketenangan yang lahir dari keyakinan kepada Allah, dan ada kekuatan yang tumbuh dari kesabaran dalam menjalani setiap amanah kehidupan.
Ada pelajaran yang sangat berharga ketika kita memperhatikan sosok seorang ayah. Barangkali beliau bukan orang yang pandai merangkai kata-kata indah. Nasihatnya sederhana, singkat, bahkan terkadang hanya berupa kalimat pendek. Namun justru dari kesederhanaan itulah tersimpan hikmah yang mendalam. "Jangan iri kepada orang lain. Rezeki sudah ada yang mengatur." Kalimat sesingkat itu mampu menenangkan hati yang sedang dipenuhi kecemasan karena merasa tertinggal oleh orang lain.
Di zaman ketika media sosial dipenuhi berbagai pencapaian, tidak sedikit hati yang menjadi gelisah. Melihat orang lain membeli rumah, memiliki kendaraan baru, memperoleh jabatan, atau menikmati liburan mewah sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang berarti. Padahal setiap manusia sedang berjalan di jalan takdirnya masing-masing. Allah tidak pernah salah dalam membagikan rezeki, kebahagiaan, maupun ujian.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini mengajarkan bahwa membandingkan hidup dengan orang lain tidak akan pernah menghadirkan ketenangan. Yang diperintahkan Allah bukanlah menghitung nikmat orang lain, melainkan berusaha, berdoa, dan meminta karunia-Nya. Setiap rezeki memiliki waktunya sendiri. Setiap kebahagiaan mempunyai jadwal yang telah Allah tetapkan dengan penuh hikmah.
Sering kali kita mengira bahwa orang yang tampak berhasil tidak pernah mengalami kesulitan. Padahal bisa jadi ia sedang menyembunyikan air mata di balik senyumannya. Sebaliknya, kita yang merasa tertinggal ternyata sedang dipersiapkan Allah untuk menerima karunia yang lebih besar pada waktu yang paling tepat. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan hanya karena kenyataan hari ini belum sesuai dengan keinginannya.
Allah SWT berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Punggung ayah yang tampak tenang sesungguhnya sedang mengajarkan makna tawakal. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa dikuasai rasa cemas yang berlebihan. Orang yang bertawakal tidak akan mudah putus asa ketika gagal dan tidak akan mudah sombong ketika berhasil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. At-Tirmidzi)
Perhatikan burung yang disebutkan Rasulullah ﷺ. Ia tidak berdiam diri di sarangnya menunggu makanan datang. Ia terbang sejak pagi, berikhtiar mencari rezeki, lalu Allah mencukupkannya. Demikian pula seorang mukmin. Ia melangkah keluar rumah dengan penuh optimisme karena yakin bahwa bumi Allah sangat luas dan pintu rezeki-Nya tidak pernah tertutup.
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah takut kalah bersaing hingga menghalalkan segala cara. Ketika seseorang lupa bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki, ia mulai mengorbankan kejujuran, amanah, bahkan persaudaraan demi memperoleh keuntungan sesaat. Padahal rezeki yang halal, meski sedikit, jauh lebih membawa keberkahan daripada harta melimpah yang diperoleh dengan cara yang batil.
Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Hud: 6)
Ayat ini menumbuhkan keyakinan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang luput dari jaminan rezeki Allah. Yang menjadi kewajiban manusia adalah memperbaiki ikhtiar, memperbanyak doa, menjaga kehalalan penghasilan, serta terus bersabar ketika hasil belum tampak sesuai harapan.
Kesabaran bukanlah kelemahan. Kesabaran adalah kekuatan yang lahir dari hati yang mengenal Rabb-nya. Orang yang sabar tidak mudah panik ketika diuji, karena ia yakin bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Maka ketika pagi datang, keluarlah dari rumah dengan senyum yang paling tulus. Jangan biarkan hati dipenuhi rasa iri, takut kalah, atau prasangka buruk kepada ketetapan Allah. Yakinlah bahwa Allah telah menyusun jatah rezeki, kebahagiaan, kesehatan, dan keberkahan setiap hamba-Nya dengan perhitungan yang sempurna. Tidak akan tertukar, tidak akan terlambat, dan tidak akan diambil oleh orang lain.
Semoga kita menjadi pribadi yang meneladani ketenangan seorang ayah: bekerja tanpa mengeluh, berusaha tanpa putus asa, berdoa tanpa henti, serta bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Semoga setiap langkah yang kita ayunkan hari ini menjadi jalan datangnya keberkahan, setiap keringat menjadi saksi ikhtiar yang diridhai, setiap doa diijabah, dan setiap rezeki yang kita peroleh menjadi rezeki yang halal, baik, luas, serta membawa manfaat bagi keluarga, agama, dan sesama. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

