Cinta dan Benci Indonesia


PartnerBhayangkara.id, 23 Juli 2026

_Hakikat Mencintai dan Membenci_

SAUDARAKU, ada negeri yang dicintai dengan pujian dan pelukan, tetapi ada pula negeri yang dicintai dengan kemarahan dan rasa muak. 

Indonesia hari ini, Kamis (13/7-2026), sedang menyaksikan wajah cinta yang kedua: 'cinta yang tercurah dalam nada amarah kebencian'.

Banyak orang, membenci “Indonesia” justru karena sangat mencintainya. Mereka tidak membenci tanah air yang dipijak, rumah bersama yang menyimpan jejak leluhur, merajut keragaman, dan menaungi harapan anak-anak negeri. Sebenarnya, mereka muak adalah karena wajah kekuasaan yang mengatasnamakan Indonesia membiarkan: ketidakadilan yang diberi kostum hukum, kebohongan yang dipoles jadi kebijakan, korupsi yang menikam amanah dan masa depan rakyat, serta kesewenangan yang berlindung dibalik jabatan dan kekuasaan.

Mereka marah, karena masih berharap. Mereka kecewa, karena masih peduli. Sebab, seseorang hanya bisa terluka oleh sesuatu yang ia cintai.

Cinta dan benci, seringkali berasal dari sumber yang sama: 'keterikatan yang dalam'. Keduanya, seperti dua arus dari sungai yang sama. Cinta ingin merawat, benci ingin mengguncang. Cinta memeluk luka, benci kadang menusuknya agar luka terkuak nanahnya. Dalam diri manusia, keduanya berdekatan dalam denyut biokimiawi perasaan: getaran energi yang sama, arah yang berbeda.

Karena itu, tidak semua kebencian adalah ketiadaan cinta. Ada kebencian, lahir dari cinta yang kecewa. Sesungguhnya, lawan dari cinta bukanlah benci. Lawan cinta itu, adalah masa bodo dan ketidakpedulian.

Orang yang membenci, masih rela menoleh. Ia masih peduli, pada apa yang terjadi di rumahnya. Ia masih terganggu, ketika melihat dinding retak dan atap bocor. Ia masih, ingin memperbaiki sesuatu yang rusak. Tetapi, orang yang masa bodo tidak lagi merasa perlu melakukan apapun. Ia membiarkan semuanya runtuh, karena tidak ada lagi ikatan batin yang membuatnya gelisah.

Maka, ketika ada suara yang berkata kepada mereka yang kecewa, “kalau tidak suka, silakan pergi ke negeri lain,” ada sesuatu yang tak terjangkau otak dan luput dipahami: cinta kepada sebuah bangsa, tidak diukur dari seberapa sering seseorang memuji. Melainkan, dari seberapa dalam seseorang merasa bertanggung jawab. 

Kritik, bukan tanda seseorang ingin meninggalkan negerinya. Kegelisahan, bukan bukti hilangnya cinta. Kadang, justru sebaliknya: kemarahan adalah bentuk keterlibatan.

Sebuah bangsa tidak menjadi lebih baik, dengan membungkam mereka yang menunjukkan retakan kebodohan nya. Ia menjadi lebih kuat, ketika warganya berani melihat kerusakan dan segera berusaha untuk memperbaikinya.

Indonesia, bukan milik pemerintah yang tengah berkuasa. Indonesia, adalah; warisan bersama. 

Pemerintah datang dan pergi, tetapi bangsa tetap tinggal. Mencintai Indonesia, tidak berarti membenarkan semua tindakan mereka yang berbicara atas nama Indonesia. Mereka, diberi amanah oleh rakyat pemilik kekuasaan tertinggi. Namun, menolak disebut makar ketika ketahuan onani dengan jabatan dipundaknya!

Cinta kepada tanah air, bukanlah kemampuan untuk selalu berkata “baik-baik saja”. Kadang, cinta adalah keberanian untuk berkata: ada yang salah, ada yang terluka, ada yang harus diperbaiki.

Indonesia, adalah paradoks yang hidup: negeri dengan keindahan yang menakjubkan dan persoalan yang melelahkan; bangsa yang kaya dengan kebijaksanaan tetapi sering miskin dalam keteladanan; masyarakat yang penuh gotong royong tetapi masih tercengkeram keserakahan dan ketidakadilan.

Kita marah, karena kita peduli. Kita kecewa, karena kita berharap. Kita mengkritik, karena kita masih merasa memiliki.

Sebuah bangsa, tidak kehilangan masa depannya karena warganya marah. Ia kehilangan masa depan, ketika warganya tidak lagi merasa apa-apa.

Indonesia tidak akan hancur, oleh mereka yang marah karena masih mencintainya. Sebab kemarahan yang lahir dari kepedulian, adalah; tanda bahwa hati bangsa masih menyala. Sesungguhnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah; ketika anak-anak negeri ini tidak lagi marah pada penyimpangan. Tidak lagi gelisah, melihat ketidakadilan, dan tidak lagi merasa bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dipelihara bersama!. 

Oleh: Yudi Latif 

(FC)

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak